Kamis, 25 Maret 2010

KONSEP TAKDIR DALAM MENINGKATKAN MUTU SUMBER DAYA MANUSIA

PENDAHULUAN

Takdir adalah suatu ketetapan akan garis kehidupan seseorang. Setiap orang lahir lengkap dengan skenario perjalanan kehidupannya dari awal dan akhir. Hal ini dinyatakan dalam Qur'an bahwa segala sesuatu yang terjadi terhadap diri seorang sudah tertulis dalam induk kitab. Namun pemahaman seperti ini tidak bisa berdiri sendiri atau belum lengkap, karena dengan hanya memahami seperti tersebut diatas dapat menyebabkan seseorang bingung untuk menjalani hidup dan menyikapinya.

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu, sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinilainya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga. (Al-Hadiid QS. 57:23).

PEMBAHASAN

A. Pengertian Takdir

Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara yang berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika kita berkata, "Allah telah menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya."

Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. Menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A'la :

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى () الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى () وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى ()

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3).[1]

B. Konsep Takdir

Islam mengenal takdir dengan sebutan qadha dan qadar. Sebagian ulama menafsirkan qadha sebagai hubungan sebab akibat dan qadar sebagai ketentuan Allah sejak zaman ajali. Jadi secara singkat qadha adalah pelaksanaan dalam tataran operasional yang dipilih oleh manusia untuk selanjutnya menemui qadarnya dan akhirnya menentukan nilai dari amal perbuatannya.

Takdir adalah suatu yang sangat ghoib, sehingga kita tak mampu mengetahui takdir kita sedikitpun. Yang dapat kita lakukan hanya berusaha, dan berusahapun telah Allah dijadikan sebagai kewajiban. ”Tugas kita hanyalah senantiasa berusaha, biar hasil Allah yang menentukan”, itulah kalimat yang sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, yang menegaskan pentingnya mengusahakan qadha untuk selanjutnya menemui qadarnya. Dan ada 3 hal yang sering-sering disebut sebagai takdir, yaitu jodoh, rizky, dan kematian.

Taqdir itu memiliki empat tingkatan yang semuanya wajib diimani, yaitu :

a. Al-`Ilmu, bahwa seseorang harus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Karena segala sesuatu diketahui oleh Allah, baik yang detail maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya. Sebagaimana firman Allah :

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya , dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata "(QS. Al-an`am 59)

b. Al-Kitabah, Bahwa Allah mencatat semua itu dalam lauhil mahfuz, sebagaimana firman-Nya :

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab . Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.(QS. Al-Hajj : 70)

c. Al-Masyiah (kehendak), Kehendak Allah ini bersifat umum. Bahwa tidak ada sesuatu pun di langit maupun di bumi melainkan terjadi dengan iradat / masyiah (kehendak /keinginan) Allah SWT. Maka tidak ada dalam kekuasaannya yang tidak diinginkannya selamanya. Baik yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Zat Allah atau yang dilakukan oleh makhluq-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya :

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin: 82)

d. Al-Khalqu, Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya, dalam firman-Nya dijelaskan :

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya”. (QS. Az-Zumar : 2)[2]

C. Perbandingan Antara Golongan Mengenai Pengertian Takdir

1. Golongan Jabariyah

Mereka yang mengatakan bahwa takdir adalah keputusan Allah dimana baik dan buruk nasib seseorang di tentukan sepenuhnya oleh Allah tanpa manusia bisa berupaya dan mengganti keadaan tersebut. Sebagian pengikut jabariyah beranggapan telah bersatu dengan tuhan. Disini menimbulkan faham “Wihdatul Wujud”, yaitu menanggulangi Kawulo Lan Gusti, bersatunya hamba dengan dia. Manusia itu sama sekali tidak mempunyai ikhtiar apa-apa, tuhanlah yang aktif. Aliran ini menempatkan manusia dalam keadaan benar-benar pasif. Aliran ini di sebut juga sebagai faham fatalisme

2. Golongan Qodariyah

Mereka mengatakan bahwa nasib atau takdir seseorang di tentukan oleh seberapa besar usaha orang tersebut tanpa ada intervensi dan keikutsertaan Allah terhadap perjalanan hidup seseorang hamba, dan lebih lanjut menyatakan bahwa disitu terhampar lahan luas dimana manusia bebas dan berkuasa penuh terhadap nasib yang akan dilalui nanti. Pendapat tersebut adalah sesat. Sebab pendapat tersebut berarti menentang keutamaan Allah dan berarti menganggapnya pulayang menjadi sebab terjadinya kejahatan-kejahatan. Mustahil jika Allah melakukan kejahatan. Walaupun faham qodariyah masih mempercayai adanya maha pencipta, tetapi menganggap tuhan dalam keadaan pasif, manusia lah yang aktif dalam berkeinginan dan berikhtiar. Jadi setingkat di bawah faham Deisme, yang mengingkari komunikasi antara tuhan dengan makhluk-Nya.

3. Ahlus Sunnah Waljamaah

Golongan ini mengatakan bahwa Allah telah menetapkan nasib dan takdir seseorang, namun manusia tetap dituntut untuk berupaya semaksimal mungkin untuk berubah dan kondisinya, dan perubahan itu bisa diupayakan atas kuasa ilahi dan ridho dari-Nya meskipun nasib dan suratan takdir telah tertulis. Dalam aliran Ahlusunnah Waljamaah terdapat aliran Asyariyah yang bersikap tengah-tengah antara pendapat Qodariyah dan Jabariyah. Allah menciptakan kemampuan dana kemauan si hamba yang keduanya berperan dalam berlangsungnya perbuatan. Sehingga dengan demikian, maka perbuatannya itu makhluk Allah.

Dari ketiga golongan tersebut bisa kita ambil konklusinya bahwa manusia tetap dituntut untuk berupaya seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat dengan seimbang tanpa melupakan sisi pasrah dan tawakal manusia terhadap tuhan. Namun perlu digaris bawahi bahwa pasrah disini bukan berarti bersikap fatalis yang hanya menunggu perubahan dari Allah atau bertindak sesuatu yang irasional. Ada sisi upaya manusia dan interprestasi tuhan untuk menetapkan sesuatu terjadi atau tidak, semua sangat tergantung dari optimalisasi usaha manusia dan keridhaan ilahi. Seperti dalam firman Allah : Yang Artinya : Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya (Qs Ar-Ra’)[3]

D. Perbadaan Takdir

Takdir bisa dibedakan menjadi dua :

1. Takdir dalam ilmu Allah yang azali.Allah SWT telah mengetahui sesuatu yang akan terjadi di dunia dan di akhirat. Tiada satupun yang tersembunyi bagi Allah, sekalipun hal itu belum terjadi. Semuanya sudah di ketahui Allah AWT sejak zaman azali. Tidak lain dan tidak bukan karena Allah lah yang menentukan semua itu. Inilah yang dimaksud takdir dalam ilmu Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah : ….Dan dia maha mengetahui segala sesuatu. (Qs Al-Baqoroh : 29)

Para ahli tauhid, salaf maupun khalaf, dari kalangan Ahlusunannah Waljamaah bersepakat (ijma’) bahwa barang siapa mengingkari atau tidak mengikuti ilmu Allah berarti kafir. Takdir dalam ilmu Allah tersebut tidak akan berubah dan tidak bisa di rubah oleh siapapun, sehingga di sebut juga Qodho Mubran atau takdir yang pasti.

2. Takdir yang tertulis di Lauhul Mahfudz.

Seperti di terangkan oleh ibnu Abbas ra, Allah SWT menciptakan qalam (pena). Kemudian Allah berfirman padanya (pena), “Tulislah !” maka, pena itu menuliskan sesuatuyang akan terjadi sampai hari kiamat di lauhul mahfudz (papan tulis yang terpelihara). Takdir yang tertulis di lauhul mahfudz masih bisa berubah karena takdir yang tertulis disitu ada yang sudah menjadi keputusan final dan ada yang belum. Yang belum menjadi keputusan final dinamakan mu’allaq. Sehubungan hal itu Allah SWT berfirman : Allah menghapuskan apa yang dia kehendaki dan menetapkan (apa pula Dia kehendaki), (Qs. Ar-Ra’ad : 39)

Adapun takdir yang tertulis di lauhul mahfudz hanya bisa berubah lantaran dua sebab, yaitu :

a) Doa Nabi Muhammad SAW bersabda :

Artinya :Tidak ada yang bisa menolak takdir selain berdoa, dan tidak ada yang bisa memperpanjang umur kecuali berbuat kebaikan. (HR. Turmudzi).

Sehingga, dengan berdoa kepada Allah, insya Allah takdir bisa berubah. Misalnya, jika kita berbuat kebaikan maka kita akan diperpanjang. b) Berbuat kebaikan Salah satu bentuk berbuat baik ialah silaturahmi. Dengan itu pun bisa merubah takdir. Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : Barang siapa yang menyayangi banyak rizki dan berumur panjang hendaknya memperbanyak hubungan silaturahmi. (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits tersebut tidak bertentangan dengan ayat yang tercantum di dalam surat An-Nahl : 61, yang mengatakan bahwa datangnya kematian seseorang tidak akan mundur dan maju barang sedikitpun. Sebab, ajal dalam ayat itu maksudnya ajal akan ditakdirkan dalam ilmu Allah yang tidak mungkin menerima perubahan. Sedangkan yang dimaksud dalam hadits diatas adalah yang tertulis si lauhul mahfudz, yang di ketahui malaikat dan masih mungkin berubah, demikian menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani.[4]

E. Konsep Takdir Dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia

Konsep takdir dalam hal ini dapat di lakukan dengan cara ikhtiar (Indeterminisme) Di dunia, manusia diwajibkan berikhtiar dan berusaha untuk mencapai segala sesuatu yang dicita-citakan demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Meskipun kita telah beriman dan mempercayai benar-benar bahwa semua ketentuan datangnya dari Allah SWT, agar lepas dari ketentuan jelek dan buruk, serta berjuang hanya mendapatkan ketentuan baik saja.

Dengan demikian, setiap mukmin wajib bekerja keras agar tidak jatuh miskin, giat belajar, agar berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat, memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebab kita tidak mengetahui takdir yang mana yang kita perlukan, sehingga setiap mukmin tidak di benarkan berdiam diri dan pasrah kepada takdir Allah, tetapi harus berjuang mencari kemaslahatan dunia dan akhirat, serta berusaha menghindari perbuatan mungkar dan maksiat. “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya” Jadi, sudah jelas bahwa kita menginginkan sesuatu hendaknya kita berikhtiar, karena melihat firman diatas bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan dirinya dengan cara berikhtiar kepada Allah SWT, dan mengoptimalkan usaha kita dan keridhaan ilahi.[5]

F. Pengaruh Takdir Dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia

Pengaruhnya antara lain sebagai berikut :

1) Takdir merupakan salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi bersemangat dalam beramal dan berusaha untuk mencapai keridhaan Allah dalam hidup ini.

2) Manusia akan mengetahui kemampuan dirinya sehingga ia tidak sombong, bangga atau tinggi hati.

3) Bisa menumbuhkan keberanian hati untuk menghadapi berbagai tantangan serta menguatkan keinginan di dalamnya.


KESIMPULAN

Takdir adalah pengetahuan abadi kepunyaan Allah, Dia yang memahami waktu sebagai kejadian tunggal dan Dia yang meliputi keseluruhan ruang dan waktu. Bagi Allah, segalanya telah ditentukan dan sudah selesai dalam sebuah takdir. Berdasarkan hal-hal yang diungkapkan dalam Al Quran, kita juga dapat memahami bahwa waktu bersifat tunggal bagi Allah. Kejadian yang bagi kita terjadi di masa mendatang, digambarkan dalam Al Quran sebagai kejadian yang telah lama berlalu.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam."

Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Oleh sebab itu, sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya.


DAFTAR PUSTAKA

Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-ilmu Islam, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.

Abdul Aziz, Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjut, Yayasan Al-Shofwa, Jakarta, 1991.

H. Zainudin, Ilmu Tauhid Lengkap, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Program internet. http://www.konsep takdir dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia.com



[1] Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-ilmu Islam, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003

[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.

[3] Abdul Aziz, Pelajaran Tauhid Untuk Tingkat Lanjut, Yayasan Al-Shofwa, Jakarta, 1991

[4] H. Zainudin, Ilmu Tauhid Lengkap, Rineka Cipta, Jakarta, 1992

[5] Program internet. http://www.konsep takdir dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia.com